Friday, September 25

Daging Kurban Untuk Siapa Saja?

Pengorbanan adalah ibadah yang hukumnya adalah sunnah muakkad untuk dilaksanakan pada hari raya al-Adha hingga hari tasyriq. Dalam presentasi kali ini, penulis akan menyampaikan kepada siapa saja daging hewan kurban dibagikan. Dalam buku tematik semua sudah dibahas tuntas untuk masalah kurban.

Untuk membahas masalah ini, kita harus mulai dengan membagi jenis niat kurban itu sendiri, yang terbagi menjadi dua, yaitu kurban sunnah dan kurban nadzar yang hukumnya wajib.

Kurban Sunnah

Sunnah Kurban adalah orang yang mengurbankan pada hari raya al-Adha dan hari tasyriq tanpa niat nadzar. Siapapun yang bisa makan daging kurban ini dijelaskan oleh Allah dalam Surat Al-Hajj ayat 28.

Jadi, bagi orang yang berkorban, maka sunnah memakan sebagian daging hewan kurban dan membagikannya kepada fakir miskin dengan kriteria prioritas yang sama seperti pada pasal zakat, di mana prioritas utamanya adalah yang paling miskin dan terdekat. untuk kita.

Dari hadits di atas kita dapat memahami bahwa hal terbaik (afdlal) adalah mengambil sepertiga dari hewan kurban untuk dirinya sendiri, sepertiga untuk tetangga dan sepertiga lainnya untuk orang lain yang memintanya.

Lantas bagaimana dengan orang yang mengurbankan sunnah pada Idul Adha dan mengambil seluruh dagingnya tanpa membagikannya kepada orang miskin? Melihat hadits di atas, orang tersebut wajib memberi ganti rugi dengan membagi paling sedikit sepertiga dari berat hewan kurbannya dan membagikannya kepada orang miskin.

Kurban Nadzar

Persembahan nadzar adalah pengorbanan seseorang yang telah bersumpah untuk melakukan pengorbanan itu. Misalnya, orang yang sakit berkata bahwa jika sembuh, dia akan mengorbankan dirinya sendiri. Kemudian, ketika orang itu pulih, dia harus bersumpah.

Untuk pengorbanan atau sumpah wajib ini, orang yang mengorbankan dirinya dan keluarga yang diwajibkan memikulnya tidak boleh memakannya. Alasannya, ketika sumpah dilakukan secara sah menurut syari’at, maka hewan tersebut bebas dari harta kurban dan harus diberikan kepada orang miskin.

Oleh karena itu, dapat dipahami bahwa daging hewan kurban hanya dapat dimakan dari sisi korban jika kurban tersebut merupakan sunnah kurban. Jadi undang-undang tidak mengizinkan ibadah wajib. Daging kurban wajib hanya bisa dimakan oleh orang miskin, tidak bisa dimakan oleh hari raya kurban, oleh orang yang diwajibkan menanggungnya, juga tidak bisa dimakan oleh orang kaya.

Nyatanya, tidak semua ulama mengatakan tidak. Ada juga yang mengijinkan, seperti pendapat Imam Malik, Imam Ahmad, Imam Qaffal dan Imam Haramain. Namun sebaiknya kita hanya mengikuti pendapat mayoritas ulama yang tidak mengijinkannya, mengingat asas “hati-hati” dalam mempertimbangkan rumusan hukum.